Dunia perkuliahan adalah misteri yang selalu sulit untuk dipecahkan , terkadang kita tidak tahu jalan yang kita ambil apakah jalan yang benar untuk kita ataukah jalan yang salah.ada orang yang dengan mudah menyelesaikan misteri itu , ada orang yang malah tidak terlalu peduli misteri itu . ada juga yang bisa menyelesaikan tapi tidak tertarik melakukan
seperti hutan belantara dan kita berada di dalamnya, terkadang kita tidak tahu jalan yang kita ambil apakah jalan yang benar untuk kita ataukah jalan yang salah. Yang kita tahu hanyalah cerita dari orang lain, bahwa jika kita mampu melewati hutan itu dan berada pada jalan yang benar, kita akan menemukan harta karun kebahagiaan. Ya hanya itu.
Ada orang yang mampu melewati hutan itu dengan selamat dan sampai pada harta karun. Ada juga orang yang berhasil keluar dari hutan tersebut, namun hanya sebatas keluar dari hutan saja tanpa berhasil menemukan harta karun. Ada juga orang yang justru tersesat di hutan tersebut, jangankan untuk mencari harta karun, menemukan jalan keluar dari hutan pun terasa membingungkan. Dan ada orang-orang yang gugur dalam hutan tersebut karena sulitnya medan yang harus dihadapi. Kamu yang mana?
Seperti yang kita ketahui. Memilih jurusan kuliah sangat menentukan bagaimana masa depan kita nanti nya. Ketika memilih jurusan sebaik nya kita mengetahui passion kita terlebih dahulu agar kita tahu harus kemana kita melangkah. Banyak kasus salah satunya, &saya sudah memilih jurusan sesuai dengan passion saya tetapi saya di terima di jurusan yang bukan passion saya. Saya juga sudah ikut tes ini itu malah tidak di terima di ptn&. Bagaimana cara mengatasi nya?. Menurut saya , pertama kita harus ikhlas menerima apa yang kita peroleh karena kita masih beruntung bisa kuliah. tetap mengikuti perkuliahan dimana kita di terima dengan sungguh- sungguh dan sepenuh hati, jadikan ini passion baru kita. percaya bahwa ini lah yang terbaik untuk kita perdalam pengetahuan mengenai jurusan kita. Keputusan paling akhir apabila di pertengahan minat belajar berkurang dikarenakan merasa jurusan tersebut benar-benar kurang cocok dengan passion nya. Maka bisa mengikuti tes perguruan tinggi d tahun berikut nya memilih jurusan yang dirasa sesuai dengan passion nya.
Pertama tama sebagai seseorang mahasiswa, tidak, sebagai calon mahasiswa kita sudah seharusnya memikirkan baik baik jurusan apa yang akan kita ambil kelak, apakah sesuai dengan kemampuan kita , apakah sesuai dengan minat atau keinginan kita dan sebagainya.
Salah jurusan di bangku kuliah bisa dibilang adalah petaka yang harus dihindari oleh seorang mahasiswa. Alasannya kalau kamu sampai salah jurusan, maka besar kemungkinannya kamu akan kehilangan semangat untuk menyelesaikan pendidikanmu sampai resiko paling parah adalah masa depan yang suram.
Karena itu nih guys, penting banget loh bagi kamu untuk mengenali gejala-gejala awal mahasiswa salah jurusan. IDNtimes bakal kasih tahu nih, apa tanda-tandanya kalau kamu salah pilih jurusan.
1. Bangun pagi adalah kegiatan paling menyiksa untukmu. Malah kalau bisa nih, kamu ingin absen hadir di setiap harinya.
2. Kalau pun ada di kelas, pikiranmu melayang entah kemana. Apapun yang diucapkan dosenmu tidak ada mampir di telinga.
3. Tiap kali lagi kuliah, matamu akan sibuk memandangi jam berharap kuliah itu cepat selesai.
4. Ketika kuliah selesai, kamu adalah mahasiswa paling bahagia.
5. Masuk ke kelas adalah pilihan terakhir dalam hidupmu. Kayaknya kalau bisa kamu ingin lolos dari kelas selamanya.
6. Kamu juga nggak inget tuh tiap hari mata kuliahnya apa…
7. Sama dosen yang ngajar? Boro-boro hapal, ingat namanya juga enggak.
8. Ketika ada tugas kamu adalah orang yang paling terakhir tahu dan akhirnya itu bikin kamu gak ngerjain.
10. (Hampir) tiap ujian kamu lempeng saja gak ada persiapan.
11. Ketika nilai keluar dan nilainya tidak memuaskan, kamu sama sekali gak ada penyesalan.
12. Saat ada tugas kuliah berkelompok, kamu paling malas deh yang namanya datang.
13. Buku-buku yang berjejer di rakmu mayoritas bukan literatur kuliah.
14. Hingga ada di semester lima, kamu bahkan belum punya bayangan akan jadi apa nantinya.
15. Teman-teman sejurusan nggak begitu kenal kamu karena memang sosokmu jarang kelihatan di kegiatan perkuliahan.
16. Tiap ada yang tanya kuliahmu bagaimana, kamu bingung mau jawab apa…
17. Kamu juga mulai menekuni bidang-bidang pekerjaan yang gak ada hubungannya sama jurusanmu.
18. Dalam hatimu mulai sering muncul kalimat, “Ah seandainya saja dulu gue pilih jurusan A saja, bukan yang sekarang, pasti gue sudah jadi….”
19. Mulai mencari-cari alasan untuk pindah jurusan. Mulai dari dosennya yang gak enaklah, lingkungan gak kondusiflah, sampai materinya terlalu sulitlah. Pokoknya semua jadi alasan
20. Kamu gak punya alasan kenapa kamu tetap kuliah sampai hari ini.
Tapi memang semua adalah hal baru di perkuliahan jadi ekspektasi bisa saja jauh dari realita, selain itu ada juga seseorang yang asal memilih suatu jurusan karena merasa dirinya tidak condong ke suatu jurusan tertentu. Akibatnya ada kasus yang bernama salah Jurusan. Karena merasa salah jurusan, banyak sekali kendala atau gangguan yang muncul seperti Malas malasan, titib absen, ip rendah dsb. Lalu sebagian orang pasti akan menyarankan PINDAH JURUSAN. Ya itu salah satu caranya. Tapi apakah itu akan menyelasaikan masalah? Bisa saja timbul masalah baru seperti penyesuaian lagi dengan jurusan baru, kerugian materiil, kerugian waktu, tenaga dan belum tentu jurusan baru membuat nyaman.
Kalau menurut saya, lebih baik kita jalani saja jurusan atau perkuliahan kita tersebut. Dari awal kita memilih berarti sudah harus tau konsekuensi dan hal hal apa saja yang menjadi tanggung jawab kita. Seperti sebuah quotes yang pernah saya lihat &Sudah terlanjur masuk kolam, sekalian menyelam saja& Ya, sekalian saja kita push diri kita agar bisa menyesuaikan dengan jurusan kita tersebut. Dengan begitu, kita bisa lebih berusaha dengan giat. Berjalannya waktu, kita akan dapat menyesuaikan dan mau tidak mau harus mempelajari bidang jurusan kita tersebut
“Bro, kayaknya gue salah jurusan.”
Keluhan ini seringkali kita dengar di lingkungan kampus–entah beberapa teman kita yang mengeluh, atau bahkan kita sendiri.
Perasaan “salah jurusan” sangat umum dirasakan mahasiswa dari jaman dulu hingga sekarang. Biasanya, “kesalahan” ini baru disadari mahasiswa setelah melalui beberapa semester awal kuliah, dan kemudian merasa tidak cocok (tidak suka atau tidak bisa) mengikuti mata kuliah yang ada di jurusan tersebut.
Apa solusinya? Pindah jurusan? Cuma beberapa orang yang cukup berani untuk mengambil risiko itu dan memulai kuliah dari nol lagi. Sisanya (mungkin termasuk kamu) tetap bertahan di jurusan yang sama. Berusaha lulus sampai akhir, dan .mendulang sebesar-besarnya manfaat yang bisa diberikan gelar itu.
Setelah lulus dari jurusan yang dirasa “salah” ini, lalu apa? Apa karena kita terlanjur memilih jurusan yang salah lantas kita juga harus bekerja di industri atau posisi yang tidak sesuai dengan diri kita?
Tapi hey, bahkan orang yang saat kuliah gak salah jurusan pun, sering bekerja di industri yang jauh berbeda dari passion mereka.
Nyatanya, hanya sedikit juga sarjana yang memiliki pekerjaan sesuai dengan jurusan kuliah mereka. Tak usah khawatir, karena ada 5 langkah yang bisa kamu lakukan jika kamu merasa salah jurusan:
1. Cari pengalaman di bidang yang lebih sesuai
Jika kamu merasa salah jurusan, cobalah membekali diri dengan pengalaman–baik pengalaman magang atau organisasi–yang lebih sesuai dengan minat dan skill kamu.
Misalnya, kamu mahasiswa jurusan Teknik Industri yang ternyata merasa lebih bisa cocok di bidang Manajemen Pemasaran. Kalau kamu sudah menyadari ketidakcocokan ini, carilah kesempatan magang di fungsimarketing. Di kepanitiaan kampus, ambillah role yang mengharuskan kamu menjalankan banyak fungsi marketing seperti Divisi Publikasi.
Pengalaman ini akan stand out di resume kamu jika setelah lulus kamu memutuskan mengambil jalur karir yang berbeda dengan jurusan kuliahmu.
2. Selain pengalaman, bekali diri dengan skill yang relevan
Hal yang lebih penting dari asal universitas dan jurusan kamu adalahskill. Sama seperti poin 1 di atas, kamu tidak hanya harus memiliki pengalaman, tapi juga membuktikan bahwa kamu memiliki strength di bidang tersebut.
Memakai contoh di poin 1, jika kamu sudah memiliki beberapa pengalaman di fungsi marketing baik di magang atau kepanitiaan, saat mencari pekerjaan cobalah highlight pencapaian-pencapaian kamu di pengalaman kamu tersebut.
Misalnya, saat menjadi bagian dari Divisi Publikasi, kamu berhasil mendatangkan ribuan pengunjung ke suatu acara dengan memanfaatkan media sosial Skill ini akan jauh lebih dilihat oleh perusahaan dibandingkan latar belakang pendidikan kamu.
3. Perluas jejaring di bidang yang ingin kamu tekuni
Poin ini tidak boleh dilupakan. Jika bidang yang ingin kamu tekuni bukan makanan sehari-hari kamu di bangku perkuliahan, otomatis kamu harus memiliki inisiatif untuk mengembangkan jejaring di luar kampus.
Misalnya, lagi-lagi memakai contoh di poin sebelumnya, kamu bisa mengikuti berbagai meetup, workshop, atau kompetisi yang berhubungan dengan bidang marketing. Hal ini akan mempertemukan kamu dengan teman-teman maupun mentor di bidang tersebut, sehingga kamu bisa belajar serta mendapatkan akses ke berbagai opportunity dari mereka.
4. Saat sedang tidak semangat, ingat lagi sudah seberapa jauh kamu melangkah
Kamu sudah sejauh ini…
&Aku tahun depan mau ikut SBMPTN lagi aja, lah! Stres nih di sini!&
&Waduh, umur kamu udah berapa? Yakin mau lulus kuliah di umur 26 tahun?&
Namanya juga salah jurusan, wajar kalau kamu sering merasa tidak semangat kuliah. Semakin mendekati tingkat akhir, alih-alih berpikir untuk semakin ingin menyelesaikan pendidikan kamu justru sering berkhayal untuk memulai semuanya dari awal lagi.
Saat sudah begini, kamu harus &cepat kembali ke alam nyata&. Tanyakan ke dirimu sendiri: yakin kamu punya energi untuk mengulang semuanya dari awal? Untuk duduk satu angkatan dengan orang-orang yang usianya 2-3 tahun lebih muda dari kamu? Untuk lulus di usia 25 atau 26 tahun, sementara kebanyakan lowongan buat fresh graduates punya batas maksimal usia pelamar?
Kamu sudah melangkah jauh sekali. Kalau harus ulang dari awal lagi, apa kabar usaha kamu selama ini?
5. Yang paling asyik sih, kamu bisa mengkolaborasikan minatmu yang sebenarnya dengan latar belakang pendidikanmu
Salah jurusan? No prob!
Mengkolaborasikan gimana nih maksudnya?
Contohnya begini. Kamu mahasiswa jurusan Akuntansi yang sebenarnya punya minat di bidang musik. Sembari nge-band, kamu bisa banget mengaplikasikan ilmu Akuntansi kamu dengan menyusun pembukuan dan memaksimalkan cashflow band-mu. Band yang sukses juga butuh manajemen cashflow yang baik, bukan? Jadi selagi belum mampu menyewa akuntan sendiri, kamu dan band-mu bisa banget memanfaatkan ilmu akuntansi kamu untuk urusan ini.
Memang nggak mudah jadi mahasiswa salah jurusan. Tapi, bukan berarti kamu harus putus asa. Pintu karirmu masih lebar terbuka, kok!
Yang pasti, salah jurusan bukan alasan kamu bisa malas-malasan. Yang terasa &salah& cukup jurusanmu saja. Jangan hidup dan masa depanmu juga
Ada alasan sederhana dibalik pertanyaan ini. Hermawan Kertajaya merasa heran karena S-1 Kotler di bidang Matematika, sedangkan S-2, S-3, maupun Post-Doctoral Research-nya di bidang Makro Ekonomi. Bagaimana bisa Kotler menjadi expert dalam Marketing, bahkan dijuluki sebagai “Bapak Pemasaran” yang buku-bukunya dijadikan pedoman bagi mayoritas perguruan tinggi di dunia?
Akhirnya, Kotler bercerita bahwa dia mencintai Marketing justru dari mentor-mentornya di bidang Makro Ekonomi. Kotler merasa belum puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya selama ini. Sehingga Kotler mempopulerkan Ilmu Marketing yang pada waktu itu masih tahap awal.
Ada alasan sederhana dibalik pertanyaan ini. Hermawan Kertajaya merasa heran karena S-1 Kotler di bidang Matematika, sedangkan S-2, S-3, maupun Post-Doctoral Research-nya di bidang Makro Ekonomi. Bagaimana bisa Kotler menjadi expert dalam Marketing, bahkan dijuluki sebagai “Bapak Pemasaran” yang buku-bukunya dijadikan pedoman bagi mayoritas perguruan tinggi di dunia?
Akhirnya, Kotler bercerita bahwa dia mencintai Marketing justru dari mentor-mentornya di bidang Makro Ekonomi. Kotler merasa belum puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya selama ini. Sehingga Kotler mempopulerkan Ilmu Marketing yang pada waktu itu masih tahap awal.
Disitu saya merasa kagum dan tidak habis pikir. Selama ini tidak ada yang namanya “belajar bukan di bidangnya” atau “salah jurusan”. Banyak sekali anak-anak muda yang mengeluh dan membenci ilmu atau bidang yang saat ini ditekuninya. Dengan dalih mengatakan “gue salah jurusan”, dan kemudian sekolah atau kuliahnya jadi tidak beres.
Andai kata, saya atau kamu tidak menyukai suatu bidang ilmu yang saat ini ditekuni, bukan berarti ilmu itu sia-sia. Bukan berarti saya atau kamu membuang waktu. Semua ilmu pasti bermanfaat. Tidak ada ilmu yang useless. Useless itu hanya karena saya atau kamu belum menerapkan ilmu tersebut, atau belum membagikannya kepada orang lain yang butuh. Lagipula ya, kecintaan pada bidang ilmu lain yang tidak bisa ditekuni secara formal (melalui sekolah atau kuliah) kan bisa dikembangkan secara informal. Autodidak, ikut kursus, punya mentor, gabung dengan komunitas, dan lain-lain.
Andai kata, saya atau kamu tidak menyukai suatu bidang ilmu yang saat ini ditekuni, bukan berarti ilmu itu sia-sia. Bukan berarti saya atau kamu membuang waktu. Semua ilmu pasti bermanfaat. Tidak ada ilmu yang useless. Useless itu hanya karena saya atau kamu belum menerapkan ilmu tersebut, atau belum membagikannya kepada orang lain yang butuh. Lagipula ya, kecintaan pada bidang ilmu lain yang tidak bisa ditekuni secara formal (melalui sekolah atau kuliah) kan bisa dikembangkan secara informal. Autodidak, ikut kursus, punya mentor, gabung dengan komunitas, dan lain-lain.
Hidup itu memang pilihan. Seandainya saya atau kamu salah mengambil pilihan, toh nggak apa-apa. Terus aja melangkah, karena di depan pasti ada jalan, walaupun jalan buntu!
Jalan buntu pun kan pasti masih punya celah, gimana caranya pinter-pinternya kita buat melipir nyari jalan keluar.
Jalan buntu pun kan pasti masih punya celah, gimana caranya pinter-pinternya kita buat melipir nyari jalan keluar.
Percuma menjadi idealis kalau ternyata hanya bullshit saja. Percuma menjadi idealis kalau ternyata niat hanya sekedar niat aja, nggak dijalanin. Seperti Kotler tadi, yang ternyata justru mengembangkan kecintaannya terhadap ilmu Marketing dari ilmu Makro Ekonomi yang telah dipelajarinya terlebih dahulu. Contoh tadi bukan berarti Kotler tidak menyukai ilmu Makro Ekonomi ya, tetapi beliau lebih memilih jalan untuk menjadi expert dan mengembangkan ilmu Marketing. Itu yang perlu ditekankan disini.
Terus sekarang kalau saya atau kamu memilih untuk menjadi tidak puas, coba deh menjadi kayak “Philip Kotler”, bukan malah merenungi nasib “salah jurusan kuliah”.
Buat adik-adik yang masih duduk di bangku SMA, terutama yang kelas 3. Kalau kamu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, perhatikan dengan cermat program studi yang akan kamu pilih adalah yang benar-benar kamu tertarik dan kuasai. Jangan sampai di tengah jalan, saat udah 1-2 tahun kuliah di sebuah program studi kamu merasa salah jurusan!
Dari pengalaman teman-teman, ada beberapa yang pindah ke jurusan kuliah lain padahal sudah kuliah sebelumnya.
Tapi apa yang sudah didapat? Gak ada…! Saat teman-teman sudah ada yang “jadi” alias udah punya keahlian setelah kuliah, kayak bikin robot, pinter elektronika, programming, atau hal lainnya, saya belum bisa apa-apa.
ya intinya kenalin aja dulu kamu bisa apa ,, mampunya dimana next nikmati dan jalin sungguh sungguh
Comments
Post a Comment
tuliskan komentar yang membangun